Saturday, January 31, 2015

Banyuputih antara ada dan tiada

Aku memang lahir di banyuputih,kira-kira sampai SMP kelas 1 awal aku tinggal di desa ini,berikutnya tahun 1993 pertengahan rumah kakek yang kami tempati di gusur untuk di jadikan terminal Bus,yang sekarang kayaknya masih kurang berfungsi,dari banyuputih bapak dan ibu ku membeli sebuah tanah di desa luwung yang berbatasan dengan desa lukojoyo,yang sampai sekarang pun rumah-rumah yang menjadi tetanggaku cuma 3 ,selebihnya adalah tempat penampungan kayu sekaligus penggergajian.
selepas SMU aku ke semarang untuk melanjutkan kuliah,cukup lama juga aku berada di semarang ,kalau di hitung sampai 9 tahunan,mulai dari kuliah gak lulus lulus karena kebanyakan ngobyek,sampai malah jadi betah di semarang,kalau kawan kawan yang lain tiap 1 minggu sekali atau paling tidak 2 mingguan lah ,aku malah kadang 1 bulan aja gak tentu,itupun kalau pas pulang ke desa jarang keluar rumah karena males,kawan kawan ku masa kecil udah pada hilang pindah ke kota lain.
Aku berat untuk meninggalkan desa ku ini,nanti kalau aku pergi dari sini ,siapa yang akan mengurus makam ibuku? sedangkan aku anak lelaki satu-satunya.kalau gak salah ada ungkapan bahwa anak laki-laki adalah milik ibunya.....
sampai sini aku jadi ingat ibuku.....,aku tidak peduli akan kata kata orang tentang anak mami,itu kan jargon orang yang kurang ajar ,lha kalau bukan anak ibu lha anake siapa? anak batu? kayak sun go kong gitu?

No comments:

Post a Comment