Sebenarnya Bukan gaya saya menulis hal yang serius,dan juga ada beberapa postingan yang melenceng(bertema bukan genre curhat meskipun saya balut dengan curhatan,tapi hal tersebut menjadi rancu bahkan terkesan ambigu),walaupun saya mencantumkan title blog ini "apa saja di jadikan bahan tulisan",tapi maksud saya adalah bahwa blog ini saya peruntukkan sebagai cara menyalurkan kegundahan mau pun kegalauan spiritual ,bagaimanapun saya ini terus dan terus melakukan pencarian ,bahkan jika merasa sudah benar justru hal tersebutlah yang berbahaya karena bisa bisa saya terjebak dalam ketakaburan dan ke ge er an.
Saya bersyukur bahwa saya belajar kepada seorang Guru / Pembimbing , dalam sebuah sarana jalan yang di runut harus sampai kepada Rasullullah SAW ,sering memang ada sekelompok manusia yang gemar menyalahkan dan mengklaim para penempuh jalan itu orang yang sesat,lha mereka sendiri kalau di runut malah gak sampai ,perlu di ketahui ya bahwa ke muktabar an itu harus sampai bukan secara sembarangan dan klaim klaim an,lha belajar agama dari buku dan arabnya terjemahan pula sudah berani mengklaim diri sebagai ustadz,kemudian bikin fatwa fatwa ,menyalahkan yang tidak sepandangan dengan dia.
Belajar otodidak dalam hal selain ilmu agama itu menurut pandangan saya nggak masalah,akan tetapi jika sudah menyangkut yang namanya ilmu agama,anda harus mempunyai seorang guru yang membimbing anda,lha belajar ilmu yang lain melalui buku aja saya agak kebingungan kok,saking bingungnya kalo nyerah kan geletakin aja tu buku kemudian gak nerusin belajar lagi,lha kalau hal tersebut di Niche agama jadinya seperti apa coba?.
Bahwa ada suatu ucapan seperti ini Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa bimbingan Syekh (Guru Mursyid) maka wajib setan Gurunya” (Abu Yazid al-Bisthami)
Ucapan tokoh besar
sufi diatas di khususkan untuk yang berhubungan dengan agama, kerohanian,dimana jika kita belajar tanpa ilmu maka setan akan mudah
menyusup dalam setiap ilmu yang kita pelajari. Tidak ada Guru
menyebabkan tidak ada yang menegur, membimbing dan mengarahkan agar kita
agar tetap berada di jalan yang benar. Sumber : http://sufimuda.net/2012/04/05/pentingnya-seorang-guru/
Sekarang ini banyak fenomena bahwa tidak usah melalui guru belajar agama,baca buku saja,cari di google saja,gak sadarkah bahwa hal ini bermaksud menjadikan kita tidak menghargai perjuangan para ulama dalam berdakwah dan mendampingi umat,ingat nggak kisah kisah umat terdahulu yang tersesat ,yang ngeyel ama Nabi nya?,akhirnya apa? ya mereka di landa kebingungan dalam menghadapi permasalahan,untungnya mereka sadar dan mencari Nabi mereka (bahwa sanya setiap Umat ada dapat jatah Nabi untuk membimbing mereka,lha kita ini Umatnya Nabi Muhammad SAW lho...).
Di pesantren Salafiyah (bukan salafi) saya menyaksikan sendiri bahwa dalam berperilaku pun sangat tertib dan tidak sembarangan,mereka sangat memegang teguh adab,demi terjaganya sesuatu yang sangat bernilai tinggi dan berharga (bukan tentang materialisme),bahkan untuk mengambil foto di tempat tersebut merupakan suatu hal yang tidak baik apalagi tanpa izin pemilik maupun pengelola pesantren tersebut ,bayangkan betapa sangat berhati-hatinya mereka menjaga ,barangkali ketika kita nampak berfoto di tempat tersebut kita akan mendapatkan pencitraan sebagai orang sholeh dan alim padahal kita sangat jauh bahkan banyak perilaku kita yang belum sesuai dengan tuntunan agama,bahkan Figur Kyai (ulama) Guru ,yang sangat di hormati pun tidak suka di foto ,di samping alasannya yang saya ketahui adalah agar menghindari pemujaan dan pengkultusan terhadap beliau.ini menunjukkan kerendah hatian dan keber hati-hatiannya beliau ,agar umat yang beliau dampingi tidak memuja dan mengagung kan selain ALLAH SWT.
Sudah ah,tuh kan saya nulis agak serius dan melenceng dari pakem saya .
No comments:
Post a Comment